Tepat malam sabtu kemarin seorang temen lama nelpon gue, namanya ijun. Katanya dia mau nanya-nanya dikit tentang skripsi. Skripsi gue dan dia katanya hampir sama. Tapi ya gue ya mungkin rada-rada lupa karena tu skripsi dibuat udah setaunan kali. Dan dia baru nyusun sekarang. ga ada yang salah sebenarnya. dia anak yang smart, namun kadang kondisi bisa tak sejalan dengan rencana. rencana ingin kelar sekian tahun tapi semua pupus dengan banyak faktor. bisa jadi dosen pembimbing, dosen penguji, data yang diambil salah, atau nilai sks yang belum mencukupi. Yang jelas derita mahasiswa taun akhir ini menyebalkan, lebih horor jika sudah ada teman yang duluan menamatkan studinya dari kita. atau malah kelangkahan ama adik kelas. tapi ya mau gimana lagi, kudu dilewatkan. karena sia-sia dong pengorbanan ngampus tiap hari kalo ujung2nya tu gelar sarjana ga bisa diperoleh. apa kata dunia.
gue juga ingat cerita bung ino zetta si muka patkai asli depok. dulu gue sring hina2 knapa tu manusia yang alhamdulillah skarang ini udah bertitle sarjana lama banget tamatnya. apa sih yang ditunggu. ya si ino ini adalah rekan kerja gue dulu di Radio, mulai dari penyiar, kita juga pernah sama-sama jadi tim marketing (yang akhirnya gue give up dan lebih mnyukai mnjadi musik director bebeh). back to the topic, tu si patkai sring banget gue hina krna kelamaan sarjana. ya maklumlah dulu angkatan gue lebih muda dari dia. dari segi umur mah dia ketuaan. hahah.. ditambah lagi wajahnya ituloh. patkai banget. bekaka. pis no'
sepertinya kata 'tahun akhir' ni mrupakan sebuah 'red note' yang kalo dipilem meteor garden siapa yang mendapatkannya bakal dagdig duer DAIA. dan spertinya kata 'tahun akhir' ini mnjadi sbuah dilematis bagi mahasiswa S1yang udah brada di bangku kuliah lbh dari 4 taun. well, awalnya ktika masuk jadi mahasiswi baru, di semester pertama pasti bakal dihadapkan dengan wajah2 lama yang ikutan masuk kelas yang kita ambil (red, mengulang mata kuliah). trus sbagai mahasiswi baru kmudian dengan sok hebatnya berkata' "duh uni/ uda ngulang y? kok bisa? kmrn tu emang ga blajar y?" ini pertanyaan kolot gue yang paling ga banget ktika awal tahun dulu.
semester kedua, krna blajar dari smester pertama bahwa tak smua orang yang mngulang itu adalah orang bodoh, perbedaannya adalah kesesuaian dengan bahan yang dihapal dengan bahan yang akan dikeluarkan ketika ujian. atau buat beberapa komunitas, kesesuaian tempat duduk ketika ujian juga bisa menentukan hasil dari ujian. well, kedua kondisi ini disesuaikan terhadap matakuliah dan tingkat ksulitan masing-masing. tahun pada saat itu, akhirnya gue mulai bisa bradaptasi dan ktika yang ditemukan kembali uda/ uni yang ikut mengambil mata kuliah yang sama, maksudnya dia ngulang. pertanyaan akan lebih me-hatinurani "uda/ uni di semester sbelumnya dapat brapa ni? kita sama2 ya blajarnya ni". kemudian semester slanjutnya akan beda lagi dan malah akan bertanya, "kira-kira ama dosen yang bersangkutan baik ga da/ ni kasih nilainya?" jawaban ini akan memberikan pengaruh terhadap PKRS gue (perubahan kartu rencana studi) dan akan berharap smoga di ACC ama dosen pembimbing.
mengingat tahun akhir sbagai suatu yang sangat 'berkesan' bagi sluruh calon sarjana, termasuk gue pada waktu itu dan sekarang sedang dihadapi oleh temen2 gue seperti ijun, aro, dll. maka kali ini gue ingin bercerita tentang apa yang dulu gue rasa ketika jadi mahasiwa taun akhir. hitung-hitung menjadi penghibur bagi sobat-sobat gue. dunia ini ga akan kiamat hanya karena kata 'taun akhir' kawan. keep calm and show them!!!!
tentang apa yang gue lakukan dulu dan tentang ekspektasi tentang kehidupan mreka yang telah lulus dan trus mengomentari kehidupan gue yang dulu berpredikat 'belum lulus'. Well, gue mulai dari jurusan dan fakultas gue. gue jurusan teknik Industri, fakultas Teknik. Universitas Andalas, sebuah kampus yang difasilitasi oleh negara. Yap, milik negara. waktu jaman gue pertama masuk, ni jurusan gue ternyata passing gradenya nomor 2 tertinggi setelah kedokteran (waktu itu beda tipis gradenya dengan farmasi unand. ga tau kalo skarang brapa).
balik ke cerita gue sebelumnya. ya miris juga ngliat tuh temen2 kok udah ada yang bisa cepet tamat, dan knapa gue yang harus versi standarnya? gue jujur ni.gue emang malas ngampus, bukan malas krna gue lebih suka ngalor ngidul di kosan, tapi karena gue lebih suka gawean ga jelas di luar sana, mulai dari sok menjadi 'pnyiar' radio, 'presenter' tipi lokal, buat 'event' ini itulah, smuanya ga jelas. sampai2 kadang gue nyesal knapa gue ga fokus kuliah aja dan brusaha menamatkan diri gue menjadi mahasiswi 'cumlaude' atau apalah. secara orang tua mana yang ga mau punya anak si 'cumlaude'. ibaratnya kalo ntar pas wisuda tu kebaca deh, "polan bin polan, anak pak polan, lulus dengan 'cumlaude' berasa apa gitu orang tua yang anaknya dipanggil gitu.
trus mengingat kejadian itu, langsung gue berpikir apa mungkin ntar seluruh curriculum vitae tempat gue pernah kerja berdampak di wisudaan ntar, ibaratnya gue langsung mikir, "Rahmi Ambarita Saragih, anak pak Saragih, lulus dengan 'memuaskan saja' tapi seorang penyiar, presenter, bla bli blu, ble, blo'.. ya gak kan? arhh.. mulai gue menyesali tiap detik yang terjadi di awal gue menjadi mahasiswi dulu ketika gue brada diposisi 'mahasisi taun akhir ini;. dan mulai gue mnyalahkan. knapa gue kmrn harus daftar jadi pnyiar, atau apalah ini itu. belum lagi faktanya gue ngliat sebagian teman gue yang udah tamat dengan predikat 'dahsyat' itu blum juga keterima 'gawe'. nah, mreka aja yang cumlaude blum dapet2 kerja, apalagi gue yang ntar tamat dengan nilai pas2an, ya nilai IPK gue pas2an 3,02.. yang penting cukup tiga kata mereka. jadi gue pas2in.. sangat dramatis skali..
gue mulai menyalahkan tiap kejadian, dan ketika bimbingan terasa semakin sulit. mulai gue menyalahkan tuhan kenapa dosen pembimbing gue harus dia atau apalah. tapi ujung-ujungnya gue malah bersyukur bgt dapat tuh bapak. Pak Ahmad termasuk penguji paling killer di jurusan gue. untung dia yang jadi pembimbing. kalo dia yang jadi penguji, apa ga cilaka 12 gue. mulai deh skarang gue menyadari betapa tiap poin-poin penting yang gue selalu sesali dulu merupakan suatu yang patut gue banggakan dan syukuri. dan ternyata memang bapak itu bapak paling baik dan pinterrrrrrrrrrrrrr sedunia. kerenlah.
gue juga ingat cerita bung ino zetta si muka patkai asli depok. dulu gue sring hina2 knapa tu manusia yang alhamdulillah skarang ini udah bertitle sarjana lama banget tamatnya. apa sih yang ditunggu. ya si ino ini adalah rekan kerja gue dulu di Radio, mulai dari penyiar, kita juga pernah sama-sama jadi tim marketing (yang akhirnya gue give up dan lebih mnyukai mnjadi musik director bebeh). back to the topic, tu si patkai sring banget gue hina krna kelamaan sarjana. ya maklumlah dulu angkatan gue lebih muda dari dia. dari segi umur mah dia ketuaan. hahah.. ditambah lagi wajahnya ituloh. patkai banget. bekaka. pis no'
sepertinya kata 'tahun akhir' ni mrupakan sebuah 'red note' yang kalo dipilem meteor garden siapa yang mendapatkannya bakal dagdig duer DAIA. dan spertinya kata 'tahun akhir' ini mnjadi sbuah dilematis bagi mahasiswa S1yang udah brada di bangku kuliah lbh dari 4 taun. well, awalnya ktika masuk jadi mahasiswi baru, di semester pertama pasti bakal dihadapkan dengan wajah2 lama yang ikutan masuk kelas yang kita ambil (red, mengulang mata kuliah). trus sbagai mahasiswi baru kmudian dengan sok hebatnya berkata' "duh uni/ uda ngulang y? kok bisa? kmrn tu emang ga blajar y?" ini pertanyaan kolot gue yang paling ga banget ktika awal tahun dulu.
semester kedua, krna blajar dari smester pertama bahwa tak smua orang yang mngulang itu adalah orang bodoh, perbedaannya adalah kesesuaian dengan bahan yang dihapal dengan bahan yang akan dikeluarkan ketika ujian. atau buat beberapa komunitas, kesesuaian tempat duduk ketika ujian juga bisa menentukan hasil dari ujian. well, kedua kondisi ini disesuaikan terhadap matakuliah dan tingkat ksulitan masing-masing. tahun pada saat itu, akhirnya gue mulai bisa bradaptasi dan ktika yang ditemukan kembali uda/ uni yang ikut mengambil mata kuliah yang sama, maksudnya dia ngulang. pertanyaan akan lebih me-hatinurani "uda/ uni di semester sbelumnya dapat brapa ni? kita sama2 ya blajarnya ni". kemudian semester slanjutnya akan beda lagi dan malah akan bertanya, "kira-kira ama dosen yang bersangkutan baik ga da/ ni kasih nilainya?" jawaban ini akan memberikan pengaruh terhadap PKRS gue (perubahan kartu rencana studi) dan akan berharap smoga di ACC ama dosen pembimbing.
mengingat tahun akhir sbagai suatu yang sangat 'berkesan' bagi sluruh calon sarjana, termasuk gue pada waktu itu dan sekarang sedang dihadapi oleh temen2 gue seperti ijun, aro, dll. maka kali ini gue ingin bercerita tentang apa yang dulu gue rasa ketika jadi mahasiwa taun akhir. hitung-hitung menjadi penghibur bagi sobat-sobat gue. dunia ini ga akan kiamat hanya karena kata 'taun akhir' kawan. keep calm and show them!!!!
tentang apa yang gue lakukan dulu dan tentang ekspektasi tentang kehidupan mreka yang telah lulus dan trus mengomentari kehidupan gue yang dulu berpredikat 'belum lulus'. Well, gue mulai dari jurusan dan fakultas gue. gue jurusan teknik Industri, fakultas Teknik. Universitas Andalas, sebuah kampus yang difasilitasi oleh negara. Yap, milik negara. waktu jaman gue pertama masuk, ni jurusan gue ternyata passing gradenya nomor 2 tertinggi setelah kedokteran (waktu itu beda tipis gradenya dengan farmasi unand. ga tau kalo skarang brapa).
balik ke cerita gue sebelumnya. ya miris juga ngliat tuh temen2 kok udah ada yang bisa cepet tamat, dan knapa gue yang harus versi standarnya? gue jujur ni.gue emang malas ngampus, bukan malas krna gue lebih suka ngalor ngidul di kosan, tapi karena gue lebih suka gawean ga jelas di luar sana, mulai dari sok menjadi 'pnyiar' radio, 'presenter' tipi lokal, buat 'event' ini itulah, smuanya ga jelas. sampai2 kadang gue nyesal knapa gue ga fokus kuliah aja dan brusaha menamatkan diri gue menjadi mahasiswi 'cumlaude' atau apalah. secara orang tua mana yang ga mau punya anak si 'cumlaude'. ibaratnya kalo ntar pas wisuda tu kebaca deh, "polan bin polan, anak pak polan, lulus dengan 'cumlaude' berasa apa gitu orang tua yang anaknya dipanggil gitu.
trus mengingat kejadian itu, langsung gue berpikir apa mungkin ntar seluruh curriculum vitae tempat gue pernah kerja berdampak di wisudaan ntar, ibaratnya gue langsung mikir, "Rahmi Ambarita Saragih, anak pak Saragih, lulus dengan 'memuaskan saja' tapi seorang penyiar, presenter, bla bli blu, ble, blo'.. ya gak kan? arhh.. mulai gue menyesali tiap detik yang terjadi di awal gue menjadi mahasiswi dulu ketika gue brada diposisi 'mahasisi taun akhir ini;. dan mulai gue mnyalahkan. knapa gue kmrn harus daftar jadi pnyiar, atau apalah ini itu. belum lagi faktanya gue ngliat sebagian teman gue yang udah tamat dengan predikat 'dahsyat' itu blum juga keterima 'gawe'. nah, mreka aja yang cumlaude blum dapet2 kerja, apalagi gue yang ntar tamat dengan nilai pas2an, ya nilai IPK gue pas2an 3,02.. yang penting cukup tiga kata mereka. jadi gue pas2in.. sangat dramatis skali..
gue mulai menyalahkan tiap kejadian, dan ketika bimbingan terasa semakin sulit. mulai gue menyalahkan tuhan kenapa dosen pembimbing gue harus dia atau apalah. tapi ujung-ujungnya gue malah bersyukur bgt dapat tuh bapak. Pak Ahmad termasuk penguji paling killer di jurusan gue. untung dia yang jadi pembimbing. kalo dia yang jadi penguji, apa ga cilaka 12 gue. mulai deh skarang gue menyadari betapa tiap poin-poin penting yang gue selalu sesali dulu merupakan suatu yang patut gue banggakan dan syukuri. dan ternyata memang bapak itu bapak paling baik dan pinterrrrrrrrrrrrrr sedunia. kerenlah.
fine mahasiswa taun akhir berakhir dan gue wisuda dengan nilai yang menurut gue standar2 aja. gue ngerasa kehilangan start dari temen2 gue yang dapat cumlaude. tapi ternyata ga semua yang disesali itu merugikan. curriculum vitae gue jadi penyiar ternyata cukup mendongkrak gue memiliki experience lebih ketimbang temen gue yang IPK nya 3,5an. kadang ternyata ga slalu IPK tinggi itu dituntut di dunia kerja. dunia begitu makin indah, ketika setiap soal wawancara ternyata ga jauh2 amat dari skripsi yang kita buat. untung pembimbing gue seperfect pak Ahmad. Ada beberapa pertanyaan yang dulu dikasih ama pak Ahmad yang ternyata ditanya ama calon user gue dimana gue bekerja sekarang. And well, gue diterima di Perusahaan Manufaktur Mainan Terbesar Nomor 1 di Dunia ini. oh iya, jarak antara gue wisuda dan nganggur tu cuma 2 minggu. itupun untuk sebuah wawancara. terlalu cepatkan? tapi gue seneng.
Inti dari cerita ini, untuk temen gue yang galau tentang meraba masa depan yang apa jadinya, apakah bisa wisuda atau ga? percayalah 'mahasiswa taun akhir' hanya sebuah titel sementara. kalo usaha, ya akan terlewati. untuk masalah masa depan yang sulit untuk dijamah, terkadang ga selamanya yang duluan tamat dengan IPK tinggi lebih duluan cepat tamat. Terkadang yang standar malah bisa luan meniti karir mereka. dunia ini terasa kelor banget kalo kita mengorek-ngorek semua limitasi kita. Jangan mudah menyerah. Life is simple as what we think. Just keep thinking you're bigger, so You are BIG!!! Jangan nyerah gitu dong.
Tips, ini ntah karena gue dulu terlalu galau kali ya. gue buka-buka internet tentang doa-doa (ya ini tergantung agama masing-masing). dulu di internet itu gue baca doa untuk melembutkan hati orang yang kita hadapi. Bacaannya itu 'Fal yatalattif Ya Allah (Lembutkanlah dia Ya Allah). dan ini kata-kata yang gue baca sebelum gue ketemu pak Ahmad, pak Alfadhlani, Bu Yumi (penentu jadwal seminar dan hasil gue), dan termasuk setiap user, manager yang mewawancarai gue. gue percaya aja tu kalimat ampuh. semakin gue percaya, semakin kejadian dia. Ya intinya kali Tuhan itu emang buka jalan kalo kita yakin dia emang bukain jalan kita. (hnaya share doa aja mana tau emang niat). hehehe. tiap baca itu gue kayaknya ngerasa kalo gue itu loveable. ahay..
Ya intinya ni. tulisan untuk menjadi penyemangat buat temen2 gue yang lagi berjuang sebagai mahasiswa taun akhir. sabar, usaha, doa, dan yakin, maka semuanya bisa. mau telat kek, atau dilangkahin ama junior kek. ga berarti lo stuck disitu dan berhenti. ga ada yang tau masa depan kita gimana. lah wong banyak kok orang yang malah telat tamatnya tapi karirnya lebih dahsyat. tetap semangat my beloved Aro, Ijun, Bro, Heru, dll. Segera menyusul. Kutunggu ST mu :), Yakinlah Tuhan selalu bersama Mahasiswa Tahun Akhir. Tuhan Bersama Kita semua.